Kamis, 13 Desember 2012

Rahasia Dibalik Sedekah

ilustrasi

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً  "Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya (bersedekah). Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (At-Tholaaq : 7)

Di jaman milenium yang serba canggih ini, rupanya telah banyak mempengaruhi paradigma manusia khususnya di negeri kita ini. Sehingga akibatnya kiblat kesuksesan orang jaman sekarang (hanyalah) yang berhubungan dengan Materi (harta kekayaan), tak peduli bagaimana cara untuk mendapatkannya.

Padahal sesungguhnya jika kita MAU kembali kepada Alloh Swt niscaya kita akan diberi kekayaan lahiriyah+batiniyah, yang pastinya dilimpahi BERKAH keselamatan dan kemuliaan dari Dzat Yang Maha Agung. Sebab ajaran dan tuntunan Alloh Swt itu memanglah sebenarnya untuk kebaikan hidup si hamba mulai dari dunia hingga di akhirat nanti.

Salah satu contoh tuntunan Ilahi dalam meraih KELAPANGAN REJEKI adalah :

1. Sedekah.
Dalam sedekah dikenal suatu Hukum Matematika Sedekah I : (10 – 1 = 19)

Mengapa bisa begitu ? Penjelasannya adalah :
Jika kita punya harta 10 dan disedekahkan 1, maka sisa harta (riil) adalah 9, namun yang satu yang dikeluarkan untuk sedekah itu dikembalikan lagi oleh Allah sebanyak sepuluh kali lipat, sesuai janji Alloh Swt dalam QS. Al-An’aam: 160.

مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

“Barang siapa membawa amal baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”

Matematika Sedekah II : (10 – 1 = 709)
Mengapa juga bisa begitu ? Maka penjelasannya adalah :

Jika kita punya harta 10 dan disedekahkan 1, maka sisa harta (riil) adalah 9, namun yang satu yang dikeluarkan untuk sedekah itu dikembalikan lagi oleh Allah sebanyak tujuh ratus kali lipat, sesuai janji Alloh Swt dalam QS. Al-Baqarah: 261.

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya / sedekah di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Atas dasar perhitungan matematika sedekah diatas, maka tentunya juga ”berlaku kelipatannya”, maksudnya yaitu, jika kita memberi (bersedekah ) lebih banyak maka akan menghasilkan atau menuai lebih banyak, bahkan hingga maksimal. Untuk itu, jika kita sudah memahami dan meyakini akan fadhilah/manfaat bersedekah , maka tentunya bersedekah sebesar 2,5 % tidaklah terasa cukup, bahkan bisa 10 % atau 20 % atau bisa lebih lagi dari itu.

Karena Alloh Swt juga menjanjikan balasannya, yaitu dalam QS. Al-Baqarah: 254.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Alloh) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.”

Dan QS. Al-Baqarah: 265.

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَتَثْبِيتاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”

Tinggal kembali kepada diri kita sendiri untuk membuka mata hati kita, untuk berkeyakinan, positive thinking, dan berserah diri (ikhlas) kepada Allah, bahwasanya Allah akan memberikan balasannya dalam bentuk apapun (tidak harus berupa ”UANG”), dan Allah pasti membalas dengan balasan yang tidak akan dikurangi sedikitpun bahkan dilebihkan sampai batas tidak terhingga jika Allah berkehendak, sesuai JANJI-NYA !!

2. Sholat Dhuha.
Diriwayatkan, Aisyah ra berkata, “Jika Rasulullah saw. meninggalkan suatu amalan yang beliau suka mengamalkannya, hal  itu karena beliau khawatir orang-orang menganggapnya sesuatu yang diwajibkan. Dan, tidak  sekalipun Rasulullah saw. melaksanakan shalat sunnah dhuha, kecuali aku pun melakukannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang dikerjakan saat matahari sudah sepenggalah naik. Rosulullah SAW memberikan tuntunan kepada umatnya agar mengerjakan sholat Dhuha secara rutin.

Perintah Rosulullah Saw ini ditegaskan berdasarkan hadits dari Abu Huroirah, berkata, "Kekasihku Rosulullah Saw berpesan kepadaku tentang tiga hal: berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mengerjakan sholat dhuha dua rakaat, dan mengerjakan shalat witir sebelum tidur." (HR Bukhari dan Muslim)

Begitu juga hadis oleh Anas, Rosulullah Saw bersabda, ”Siapa yang mengerjakan sholat Dhuha sebanyak dua belas raka'at, Alloh Swt akan membangun buat dirinya istana emas di surga." (HR Tirmidzi)

Adapun rahasia dan khasiat sholat Dhuha, dapat dipahami dari keterangan dua hadis berikut ini:
Rosulullah Saw bersabda, "Seharusnya setiap tulang badan salah seorang di antara kalian setiap pagi agar bersedekah. Setiap tasbih bernilai sedekah, setiap pujian kepada Alloh Swt bernilai sedekah, setiap bacaan tahlil bernilai sedekah, setiap takbir bernilai sedekah, menyuruh agar berbuat baik bernilai sedekah, dan mencegoh orang yang berbuat mungkar bernilai sedekah. Semua itu dapat dimbangi dengan mengerjakan shalat dua rakaat, yaitu shalat dhuha. " (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud)

Buraidah meriwayatkan sabda Rosulullah Saw, "Pada manusia terdapat tiga ratus enam puluh persendian tulang. Hendaknya setiap persendian itu bersedekah. Orang-orang bertanya, siapa yang dapat mengerjakan seperti itu wahai Rosulullah? Beliau menjawab, Ada dahak di masjid, lalu ditimbun dengan tanah, atau ada suatu gangguan yang disingkirkan dari jalan. Bila tidak sanggup, maka dapat diganti dengan sholat Dhuha sebanyak dua rakaat. Hal itu meniadai bagimu. " (HR Ahmad dan Abu Daud)

Tentang kedua hadits tersebut, Imam Syaukani berpendapat bahwa hal tersebut menunjukkan keutamaan mengerjakan sholat Dhuha dua rakaat. Betapa tingginya nilai shalat ini. Bahkan dua rakaat sholat Dhuha dapat menggantikan tiga ratus enam puluh kali bersedekah. Selain itu, dalam sholat Dhuha juga terkandung doa permohonan membuka pintu rezeki dan panjang umur.

Wallahu’alam bisshowab.

Tidak ada komentar:

Dipersilahkan mencari artikel blog ini